Pengikut

Kamis, 15 November 2012

Ekologi perairan Waduk Wadaslintang


I. PENDAHULUAN
            Waduk adalah tempat pada permukaan tanah yang digunakan untuk menampung air saat terjadi kelebihan air / musim penghujan sehingga air itu dapat dimanfaatkan pada musim kering. Sumber air waduk terutama berasal dari aliran permukaan dtambah dengan air hujan langsung.
a.      Klasifikasi waduk
Berdasarkan fungsinya, waduk diklasifikasikan menjadi dua jenis yaitu :
1) Waduk eka guna (single purpose), yaitu waduk yang dioperasikan untuk memenuhi satu kebutuhan saja, misalnya untuk kebutuhan air irigasi, air baku atau PLTA.
2) Waduk multi guna (multi purpose), adalah waduk yang berfungsi untuk memenuhi berbagai kebutuhan, misalnya waduk untuk memenuhi kebutuhan air, irigasi, air baku dan PLTA.
b.      Karakteristik waduk
Karakteristik suatu waduk merupakan bagian pokok dari waduk yaitu volume hidup (live storage), volume mati (dead storage), tinggi muka air (TMA) maksimum, TMA minimum, tinggi mercu bangunan pelimpah berdasarkan debit rencana.
Salah satu waduk yang terdapat di Jawa Tengah adalah waduk Wadaslintang yang terletak di wilayah Kecamatan Wadaslintang, Kabupaten Wonosobo, Provinsi Jawa tengah, Indonesia. Waduk Wadaslintang terletak di bagian selatan wilayah Kecamatan Wadaslintang berbatasan dengan kecamatan Padureso di Kabupaten Kebumen. Waduk ini menggunakan Kali Gede sebagai sumber air utamanya dengan beberapa anak sungai kecil lainnnya yang menyuplai air ke Waduk Wadaslintang. Dalam proses pembangunannya, tanah yang diperlukan untuk kawasan waduk tersebut mencapai 2.626 ha.

Gambar 1. Waduk Wadaslintang
Proses pembangunan waduk ini dilakukan pada masa pemerintahan Presiden Soeharto. Pembangunan Waduk Wadaslintang dilaksanakan oleh kontraktor Hydro Resource Coorporation Filipina, bekerja sama dengan PT Brantas Abipraya. Mulai dibangun pada tahun 1982, dan diresmikan oleh Presiden Soeharto awal tahun 1988. Tinggi bendungan 116 m lebar 10 m dan panjang 650 m, berisi air maksimal 443 juta m3. Luas daerah tangkapan (Catchment area) Waduk Wadaslintang meliputi areal seluas ± 19.600 ha.
Adapun spesifikasi teknis Waduk Wadaslintang adalah sebagai berikut :
1. Fungsi Waduk
Irigasi = 32.064 ha dan Tenaga listrik = 16,8 MW
2. Data Hidrologi
Daerah aliran sungai = 196 km2, aliran masuk tahunan rata – rata = 472,5 juta  m3, debit banjir rencana = 3.880 m3/detik, debit banjir periode 100 tahun = 1.100 m3/detik, debit banjir periode 25 tahun = 753 m3/detik.
3. Reservoir
Elevasi muka air waduk maksimum = 190,3 elevasi muka air waduk operasi maksimum = 185,0 m, elevasi muka air waduk minimum = 123,0 m, luas genangan pada elevasi 190,3 m = 14,6 km2, luas genangan pada elevasi 185,0 m = 13,3 km2, luas genangan pada elevasi 123,0 m = 2,0 km2, volume air pada elevasi 190,3 m = 527 juta m3, volume air pada elevasi 185,0 m = 443 juta m3, volume efektif pada elevasi 123 – 185 m = 408 juta m3, volume air pada elevasi 123,0 m = 35 juta m3.
4. Bendungan dan Bangunan Pelengkapnya
A. Bendungan utama (main dam)
Tipe = bendungan urugan dengan urugan (rockfill) dan inti kedap air
(impervious wet core), panjang puncak bendungan = 650,0 m, lebar puncak bendungan = 10,0 m, elevasi puncak bendungan = 191,0 m, tinggi maksimum di atas dasar = 123,0 m, kemiringan up stream (H : V) = 2,25 : 1, kemiringan down stream (H : V) = 2,00 : 1, volume urugan = 8,2 juta m3.
B. Bendungan pengelak (cover dam)
Tipe = timbunan batu dengan lapisan kedap air dan padat, tinggi = 35 m pada elevasi puncak + 110,0 m.
C. Bangunan pelimpah (spillway)
Lokasi = tumpuan kanan bendungan, tipe = pelimpah bebas dengan 2 lubang udara dengan flip bucket, elevasi flip bucket = 76,0 m, lebar pada flip bucket = 26,0 m, elevasi puncak = 185,0 m, panjang puncak = 54,0 m, debit maksimum pada elevasi 190,3 m = 1.570,0 m3/detik, debit banjir rencana = 3880,0 m3/detik, panjang saluran peluncur = 341,0 m.
D. Bangunan pengambilan (intake)
Tipe pintu intake = hemispherical bulkhead, elevasi intake = 123,0 m.
E. Terowongan irigasi / PLTA
Lokasi = tumpuan kiri bendungan, tipe = lingkaran dengan dinding beton, diameter terowongan = 3,0 m, panjang terowongan = 437,0 m.
5. Tenaga Listrik (hydro power)
A. Turbin
Tipe = Francis, jumlah = 2 unit, pabrikan = Fuji Elektric Co. Ltd., kapasitas terpasang = 2 x 8,4 MW, tinggi terjun rencana = 95,0 m, tinggi terjun maksimum = 115,0 m, tinggi terjun minimum = 57,5 m, putaran normal = 500 rpm, runway speed = 1000 rpm, debit maksimum = 24,0 m3/detik, produksi pertahun = 92,0 GWH.
B. Generator
Tipe = Syncronous Generator Vertical System Hydroulic turbin driver,indoor, sistem pendingin = udara (air cooling system, pabrikan = Fuji Electric Co. Ltd, jumlah = 2 unit, kapasitas = 2 x 8889 KVA, jumlah phase = 3 phase, Rated voltage = 6,3 KV, putaran = 500 rpm, frekuensi = 50 Hz, Fly wheel effect (GD2) = 110 ton m2, Short circuit ratio 1,1, Exciter = static exciter, berat total per unit generator = 81,2 ton, Efficiency at 100 % rated output p.f. 0,9 lag = 96,4 %.
C. Main power transformer
Pabrikan = PT. Unindo Indonesia, jumlah = 2 unit, kapasitas per unit = 10 MVA, Efficiency at rated capacity = 99,35 %, Rated voltage = 150 / 6,3 KV, Conection = YNd 5, jumlah phase = 3 phase, frekuensi = 50 Hz, pendingin = unair, berat total per unit = 34 ton.
D. Power house
Tipe power house = dalam ruangan (indoor), dimensi : Tinggi maksimum diatas pondasi = 6,7 m, Panjang = 37,82 m, Lebar = 16,2 m.
6. Pintu – Pintu Pengoperasian Air Waduk
A. Pintu intake
Elevasi intake = 123 m, tipe = Steel Hemispherical Bulkhead, diameter = 3,0 m, kecepatan angkat = 0,23 m / menit, kapasitas mengangkat = 15.000 kg, diameter tali pengangkat = 25 mm.
B. Gate Chamber
 Tipe = Fix wheel gate, lebar = 2,5 m, tinggi = 2,8 m, kecepatan membuka = 1,5 m / menit, tenaga listrik = AC 3 phase, 380 V, 50 A.
C. Pintu Pengeluaran / outlet
Outlet guard valve (OGV)
            Tipe = Flow trough butterfly valve, diameter = 2,5 m, tipe = Hydraulic Cylinder, tekanan maksimalnya adalah 140 kg / cm2.
Hollow cone valve (HGV)
Tipe = Hollow cone valve, diameter = 2,25 m, kecepatan = 0,1 m / menit.

Bendungan Wadaslintang terletak pada Sungai Bedegolan (Kali Medono) dengan 18 (delapan belas) anak sungai antara lain :

Kali Bersole, Kali Pring, Kali Jalatunda, Kali Pringtali, Kali Banger, Kali Jambeng, Kali Dampit, Kali Mejing, Kali Pelunjaran, Kali Gedangan, Kali Kajoran, Kali Manggur, Kali Goblok, Kali Sadang, Kali Tracap, Kali Sambenghilir, Kali Sambenghulu, Kali Pingit .
Waduk Wadaslintang mempunyai beberapa fungsi penting yang menopang kehidupan warga di sekitarnya, diantaranya :
1.      Irigasi, untuk memenuhi kebutuhan dan menghindari memuncaknya penggunaan air bagi petani di daerah irigasi, pola tanam dengan sitem golongan (golongan I dengan awal musim tanam pada pertengahan bulan Oktober dan golongan II dengan awal musim tanam pada awal bulan November). Dari sejumlah air yang tertampung di waduk dan ketersediaan air hilir waduk, luas total potensi lahan irigasi wilayah Waduk Wadaslintang adalah ± 33.279 ha.
2.      Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), Waduk Wadaslintang mampu menghasilkan listrik 16 MW, dengan transmisi jaringan kurang lebih mencapai 30 km. PLTA adalah suatu system pembangkit listrik yang biasanya terintegrasi dalam waduk dengan memanfaatkan energi mekanis aliran air untuk memutar turbin, diubah menjadi energi listrik melalui generator. Besarnya debit pembangkitan tenaga listrik sangat tergantung dari debit pembangkitan dan tinggi jatuh efektif. Debit maksimum untuk pembangkitan tenaga listrik sebesar 24,0 m3/detik dengan tinggi terjun maksimum 115,0 m dan tinggi terjun minimum 57,5 m. Tipe turbin yang dipakai adalah tipe “Francis” dua unit dengan kapasitas daya listrik terpasang yang mampu dihasilkan adalah sebesar 2 x 8,4 MW, sedangkan produksi energi tahunannya mencapai 92,0 GWH.
3.      Perikanan, Waduk Wadaslintang juga dimanfaatkan sebagai tempat untuk budidaya ikan, yaitu dengan menggunakan keramba jarring apung (KJA).
4.      Pariwisata, pengelolaan objek wisata Waduk Wadaslintang dilakukan bergiliran. Mengingat lokasinya di dua Kabupaten. Maka dua daerah, Kebumen dan Wonosobo sepakat mengelola secara bersamaan. Setahun dikelola Wonosobo, tahun berikutnya dikelola Diparta Kebumen. Waduk ini terkenal sebagai lokasi favorit untuk rekreasi memancing bagi para penggemar olah raga memancing.
  1. Mencegah terjadinya banjir
  2. Penampung air, waduk ini sebagai tempat penyuplai air yang menunjang kehidupan warga di sekitar Waduk Wadaslintang.

II. PEMBAHASAN
Waduk Wadaslintang merupakan salah satu ekosistem perairan air tawar yang terdapat di Kecamatan Wadaslintang, Kabupaten Wonosobo, Jawa tengah. Kondisi perairan Waduk Wadaslintang di pengaruhi oleh faktor fisika, kimia, dan biologi. Ketiga faktor tersebut berpengaruh terhadap kualitas perairan Waduk Wadaslintang. 
Faktor fisika perairan Waduk Wadaslintang meliputi parameter suhu , kedalaman, kekeruhan, kecerahan, TSS, TDS, dan kecepatan arus. Berdasarkan penelitian diketahui bahwa suhu perairan Waduk Wadaslintang berkisar antara 29-30˚C. Menurut BPPP (1990), suhu yang optimal bagi kehidupan organisme air berkisar antara 25–30ºC. Berdasarkan data hasil pengamatan suhu air tersebut, maka kondisi perairan Waduk Wadaslintang masih baik untuk mendukung kehidupan akuatik. Kedalaman perairan Waduk Wadaslintang berkisar antara 33–76 m. Menurut Krebs (1978), kedalaman akan mempengaruhi penetrasi cahaya matahari ke dalam air, sehingga produktivitas primer akan berkurang. Kekeruhan perairan Waduk Wadaslintang berkisar antara 30–45 NTU. Kecerahan perairan Waduk Wadaslintang berkisar antara 8–15 meter. Hasil pengukuran TSS berkisar antara 2,0 – 40,0 mg/l. Kandungan TDS berkisar 66,7 – 390 mg/l. Kekeruhan air, kandungan TSS, dan kandungan TDS dalam perairan terjadi oleh adanya bahan-bahan suspense seperti tanah liat, pasir, bahan organik termasuk juga bakteri, plankton dan jasad–jasad renik. Kekeruhan yang tinggi akan memperkecil kecerahan perairan atau penetrasi cahaya dalam perairan itu, dan akibatnya akan menghambat fotosintesa oleh phytoplankton, periphyton, dan jenis tanaman air lainnya sehingga produktivitas turun. Konsentrasi TSS perairan Waduk Wadaslintang pada umumnya masih berada pada kisaran baku mutu yang diijinkan berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air.
Kecepatan arus perairan Waduk Wadaslintang berkisar antara 0,07–0,2 m/det. Odum (1994) menyatakan bahwa, arus sangat penting sebagai faktor pembatas, terutama pada aliran air, arus juga sangat menentukan distribusi gas yang vital, garam dan organisme kecil. Arus di Waduk Wadaslintang cukup baik berfungsi dalam mendistribusikan bahan anorganik maupun organik yang terdapat di perairan Waduk Wadaslintang.
Faktor kimia Waduk Wadaslintang terdiri dari parameter : DO, CO2 bebas, DMA, pH air, COD, BOD, alkalinitas, Phosphat total, orthophosphat, nitrat, nitrit, ammonia dan H2S. Konsentrasi oksigen terlarut perairan Waduk Wadaslintang berkisar antara 3,2–5,0 mg/L. Konsentrasi oksigen terlarut tersebut pada umumnya sesuai dengan baku mutu yang diijinkan berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air yaitu 3 mg/l. Menurut Alaert dan Santika (1987), kandungan oksigen terlarut untuk keperluan perikanan disyaratkan lebih besar dari 3 mg/L, dan diperbolehkan sama dengan 3 mg/L. Karena menurut Schmittou (1991) dalam Nastiti et al (2001), bahwa konsentrasi oksigen terlarut yang sangat rendah akan merangsang munculnya gas–gas beracun seperti: N-NH3, H2S dan CH4 yang dapat menyebabkan kematian ikan secara massal.
Hasil pengukuran kandungan karbondioksida (CO2), didapatkan berkisar antara tidak terdeteksi (ttd) – 3,80 mg/L. Karbondioksida memegang peranan penting bagi tumbuhan hijau yang mampu berfotosintesis, baik fitoplankton maupun tumbuh – tumbuhan tingkat tinggi. Menurut Wetzel (1983), CO2 akan lebih cepat digunakan oleh fitoplankton bila dibandingkan dengan HCO3 atau CO3. Menurut Wardoyo (1981), batas kandungan CO2 bebas di daerah tropis di bawah 12 mg/L. Berdasarkan kandungan CO2 bebas yang didapat di perairan Waduk Wadaslintang masih baik untuk kehidupan ikan dan organisme air lainnya.
Hasil pengukuran kandungan Daya Menggabung Asam (DMA) didapatkan berkisar antara 0,3–1,4 mg/L. Hickling (1971) menyatakan bahwa, perairan dengan kadar DMA 0,5–2,5 mg/L dapat dikategorikan sebagai perairan dengan tingkat produktivitas sedang. Berdasarkan hasil penelitian dan batasan yang dinyatakan oleh Hickling (1971), perairan Waduk Wadaslintang termasuk perairan yang produktivitasnya sedang. Konsentrasi COD perairan Waduk Wadaslintang berkisar antara 48,0-68,0 mg/l. Menurut Alaert dan Santika (1987), angka COD merupakan ukuran bagi pencemaran air oleh zat – zat organik yang secara alamiah dapat dioksidasikan melalui proses mikrobiologis, dan mengakibatkan berkurangnya oksigen terlarut di dalam air.
Konsentrasi BOD perairan Waduk Wadaslintang berkisar antara 0,64 – 5,12 mg/L. Konsentrasi BOD tersebut pada umumnya sesuai dengan baku mutu yang diijinkan berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air yaitu 6 mg/l. Menurut Sastrawidjaya (1999); Siregar (2001), BOD5 merupakan indikator yang berguna untuk menunjukkan besarnya beban pencemaran organik pada suatu perairan. Alkalinitas di perairan Waduk Wadaslintang berkisar 1,58 – 1,80 mg/L. Dalam air alam alkalinitas sebagian besar disebabkan oleh adanya bikarbonat, sisanya oleh karbonat dan hidroksida. Selanjutnya Alaerts dan Santika (1987), pada keadaan tertentu (siang hari) adanya ganggang dan lumut dalam air menyebabkan turunnya kadar karbondioksida dan bikarbonat akan menyebabkan pH naik. Menurut Wardoyo (1981), pada perairan alami yang normal, nilai alkalinitas menggambarkan nilai kebasaan dari karbonat atau bikarbonatnya.
Kandungan ortophosphat di perairan Waduk Wadaslintang berkisar antara 0,0112–0,0137 mg/L. Kandungan ortophosphat cenderung lebih kecil dari kandungan phosphat total yang didapatkan. Allaert dan Santika (1987), menyatakan bahwa phosphor dalam bentuk ortophosphat yang dapat dimanfaatkan oleh bakteri maupun oleh tanaman. Mengacu PP Nomor 82 Tahun 2001 Tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air, bahwa kriteria mutu air berdasarkan kelas I dan II kandungan phosphatnya 0,2 mg/L, kelas III kandungan Posphatnya 1 mg/L, dan kelas IV kandungan Phosphatnya 5 mg/L. Jadi kualitas air Waduk Wadaslintang menurut Allaert dan Santika (1987), dan PP No. 82 Tahun 2001 termasuk kualitas yang masih baik atau aman bagi kehidupan organisme dan hewan air lainnya. Nitrogen dalam air dapat berada dalam berbagai bentuk : nitrat, nitrit, ammonia atau N yang terikat oleh bahan organik atau anorganik. I Nyoman et al (2000), menyatakan nitrat adalah bentuk senyawa yang stabil dan keberadaannya berasal dari buangan pertanian, pupuk, kotoran hewan, dan sebagainya, sedangkan nirit biasanya tidak bertahan lama dan merupakan keadaan sementara proses oksidasi antara ammonia dan nitrat yang dapat terjadi dalam air sungai, system drainase, sistem instalasi air buangan dan sebagainya. Selanjutnya I Nyoman et al (2000), menyatakan keberadaan nitrit (NO2) dalam jumlah tertentu dapat membahayakan kehidupan hewan air, sedangkan nitrat (NO3) pada konsentrasi tinggi dapat menstimulir pertumbuhan tanaman air dan ganggang yang tak terbatas, sehingga air kekurangan oksigen terlarut yang bisa menyebabkan kematian ikan. Menurut Goldman dan Horne (1983), bahwa kadar nitrit di suatu perairan tidak boleh lebih dari 1 mg/L. Pescod (1973), menyatakan bahwa kandungan ammonia yang aman bagi kehidupan organisme akuatik di perairan tropis tidak boleh lebih dar 1 mg/l. Menurut PP No. 82 Tahun 2001 kriteria baku mutu air berdasarkan kelas, untuk kelas I dan II kandungan nitratnya 10 mg/L, kelas III dan kelas IV kandungan nitratnya 20 mg/l, sedangkan kandungan ammonia bebas kelas I 0,5 mg/L, dan untuk kelas II, III, dan kelas IV tidak dipersyaratkan. Menurut Pescod (1973), kandungan ammonia yang aman bagi organisme perairan tropis adalah tidak boleh melebihi dari 1,0 mg/L. Jadi dengan demikian kondisi perairan Waduk Wadaslintang berdasarkan kandungan Nitrat, Nitrit, dan ammonianya masih baik.
Kandungan H2S dari hasil pengukuran didapatkan pada kelima stasiun pengambilan sampel air tidak terdeteksi (ttd). H2S tidak terdeteksi karena H2S mudah dioksidasi menjadi asam sulfat (H2SO4), maka H2S hanya mantap dalam keadaan tanpa oksigen. Menurut Alaert dan Santika (1987), air yang baik untuk keperluan perikanan kandungan H2S maksimal 0,002 mg/l. Jadi kualitas perairan Waduk Wadaslintang berdasarkan kandungan H2Snya masih baik.
Faktor biologi perairan terdiri dari Plankton yang ditemukan pada penelitian di Waduk Wadaslintang sebanyak 18 genera, terdiri dari Phytoplankton sebanyak 14 genera dan Zooplankton sebanyak 4 genera. Phytoplankton yang ditemukan terdiri dari 3 divisi yaitu Chlorophyta terdiri dari 9 genera, Cyanophyta terdiri dari 4 genera, dan Pyrophyta terdiri dari 1 genera. Chlorophyta merupakan produsen primer di lingkungan perairan dan merupakan sumber makanan alami bagi organisme perairan termasuk ikan. Sedangkan zooplankton yang ditemukan adalah 3 kelas terdiri dari 25 spesies, meliputi 14 spesies dari kelas Crustacea, 8 spesies dari kelas Rotatoria, dan 3 spesies dari kelas Cilliata. Kelimpahan zooplankton berkisar antara 491 – 1358 ind/l dengan rata-rata 898,7 ind/l. Spesies yang paling melimpah yang ditemukan di perairan Waduk Wadaslintang adalah Cyclops sternuus (37,63 %)  , Branchionus falcatae (8,65 %), Cyclops agilis (8,65%), Cyclops fuscus (7,37), dan Eucyclops agilis (5,21 %). Nilai indeks keanekaragaman (H’) didapatkan antara 1,867 sampai 2,346, yang berarti bahwa keanekaragaman zooplankton di perairan Waduk Wadaslintang masih tergolong cukup stabil. Sedangkan nilai indeks kemerataanya antara 0,751 sampai 1. Nilai indeks kemerataan tergolong cukup merata yaitu rata-rata mendekati nilai 1. Menurut Odum (2001), keberadaan jenis – jenis fitoplankton dapat digunakan sebagai indikator untuk merunut kompleksnya rantai makanan. Semakin banyak jenis fitoplankton berarti semakin baik pula kondisi lingkungannya. Djuhanda (1980), menyatakan bahwa perairan yang kaya akan berbagai jenis plankton dengan jumlah individu yang banyak merupakan perairan yang subur untuk perikanan, sehingga dengan keadaan yang demikian itu maka Waduk Wadaslintang layak digunakan untuk usaha perikanan.
Indeks keragaman perairan tidak tercemar adalah lebih dari 2,0; tercemar ringan adalah 2,0 – 1,6; tercemar sedang adalah 1,5 – 1,0 dan tercemar berat adalah kurang dari 1,0. Berdasarkan pernyataan tersebut maka perairan Waduk Wadaslintang termasuk perairan yang tercemar sedang. Berdasarkan hasil penelitian perairan Waduk Wadaslintang meliputi faktor fisika-kimia, dan biologi tersebut di atas masih memenuhi atau layak dimanfaatkan untuk aktivitas kehidupan manusia, misalnya untuk budi daya ikan, transportasi, dan wisata.







III. KESIMPULAN

Waduk Wadaslintang merupakan salah satu ekosistem perairan tawar yang terletak di Kecamatan Wadaslintang, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Waduk Wadaslintang memiliki banyak manfaat penting yang menunjang kehidupan masyarakat sekitarnya diantaranya untuk irigasi, PLTA, pariwisata, perikanan, mencegah terjadinya banjir, dan penampung air. Kondisi perairan Waduk Wadaslintang dipengaruhi oleh faktor fisika, kimia dan biologi. Ketiga faktor tersebut berpengaruh terhadap kualitas perairan Waduk Wadaslintang. Faktor fisika meliputi parameter suhu, kedalaman, kecerahan, kuat arus, TSS dan TDS. Faktor kimia meliputi parameter DO, CO2 bebas, DMA, pH air, COD, BOD, alkalinitas, Phosphat total, orthophosphat, nitrat, nitrit, ammonia dan H2S. Sedangkan   factor biologi merupakan biota yang terdapat di waduk tersebut, yaitu terdiri dari fitoplankton dan zooplankton. Berdasarkan penelitian terhadap ketiga faktor tersebut, maka perairan Waduk Wadaslintang masih dikatakan seimbang.











DAFTAR PUSTAKA

Alaert, G. dan S.S. Santika. 1987. Metode Penelitian Air. Usaha Nasional : Surabaya.
Carmudi, P. Hary Tjahya Soedibya. 2011. Dampak Budidaya Ikan Karamba Jaring Apung Terhadap Kualitas Air Perairan Waduk Wadaslintang Kabupaten Wonosobo. Prosiding Seminar Nasional Hari Lingkungan Hidup.Halaman 49-52.
Hickling, C.F. 1971. Fish Culture. Feber and Feber London.
Nastiti, A.S., dkk. 2001. Daya Dukung Perairan Waduk Jatiluhur untuk Budidaya Ikan Dalam Karamba Jaring Apung. Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia. Volume 7. Halaman 15-19.
Odum. 1994. Fundamental of Ecology. W.B. Sounder Company and Toppan Ltd., London.
Pescod, M.B. 1973. Investigation of Rational Effluent and Stream, Standards for Tropical Countries. ATT : Bangkok.
Siregar, A.S. T.P. Sinaga dan Setiyanto. 2001. Studi Ekologi Fauna Benthik (Macrobrachium spp) di Sungai Banjaran, Pelus, dan Logawa, Kabupaten Banyumas. Majalah Ilmiah Biologi. Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto.
Sumawidjaya, K. 1978. Limnologi. Intitut Pertanian Bogor.
Wardoyo, S.T.H. 1981. Kriteria Kualitas Air Untuk Keperluan Pertanian dan Perikanan. Intitut Pertanian Bogor : Bogor.
Wetzel, Robert G. 1983. Limnology. Sounders College Pubishing, Winston-USA.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar